Save our earth? Istilah ini sudah mendunia. Ternyata? Realisasinya saja masih jauh dari harapan.
Sebelum kita melihat ke dalam skala yang lebih besar,
mari kita lihat diri kita sendiri. Sudahkah kita mencerminkan manusia yang
peduli akan bumi sebagai tempat tinggal kita? Atau yang lebih familiar disebut
dengan “ save our earth”
Banyak buku, artikel, penelitian dan tindakan langsung
mengenai bagaimana kelangsungan hidup dan masa depan bumi kita ini. Banyak
pendapat yang berbeda, ada pro & kontra, itu sudah hal yang biasa. Sangat
banyak orang yang setuju dan mendukung adanya gerakan “ save our earth” namun
tidak sedikit orang atau sebagian kelompok yang tidak setuju atau apatis
terhadap kelangsungan bumi kita ini.
Banyak bencana alam dan ketidak seimbangan iklim atau
krisis iklim yang kita alami dalam beberapa dekade ini. Krisis iklim salah satu
yang kita hadapi saat ini, yang sebenarnya merupakan hasil dari akumulasi polusi
yang terjadi beberapa dekade lalu.
Sangat banyak hal yang menggangu kestabilan bumi kita.
Penyebabnya mulai dari limbah mahluk
hidup, sampai limbah industri-industri besar, yang bisa dipastikan semua karena
perbuatan manusia. Namun hal yang paling mengancam, dari kestabilan bumi kita
adalah makin panasnya suhu bumi (global warming) dan semakin menipisnya lapisan
ozon di pada atmosfer. Banyak hal yang mengakibatkannya pemanasan global dan
menipisnya lapisan ozon. Penyebab yang paling besar adalah polusi. Entah itu
polusi dalam skala kecil maupun skala besar.
Polusi-polusi ini kebanyakan dihasilkan pada sektor-sektor
pembangkit listrik, industri, pertanian, deforestasi, dan transportasi.
Pemanasan global masalah yang dihadapi di setiap negara
di dunia. baik negara besar maupun negara yang sedang berkembang, semua terkena
dampaknya dan semua turut ikut menyumbang polusi penyebab terjadinya pemanasan
global.
Semua turut berpartisipasi dalam memberikan polusi dalam
jumlah yang yang tidak sedikit dan ini merupakan sebuah ancaman bagi
kelangsungan hidup seluruh penghuni bumi.
Hal yang paling mendasar dalam sistem tatanan kehidupan
kita adalah sumber energi. Sumber utama terbesar dari polusi pemanasan global
buatan manusia adalah produksi energi dari bahan bakar fosil, seperti batu
bara, minyak bumi, dan gas alam. Ketergantungan kita pada bahan bakar fosil
sangat berpengaruh dalam pemanasan global. Jika kita mampu mendapatkan
pengganti yang setara dengan bahan bakar fosil, maka penggunan bahan bakar
fosil dapat dikurangi. Ada bermacam-macam sumber energi yang kita gunakan, ada
berbagai macam pula cara pengolahan dan yang paling penting efeknya. Sumber
energi ini kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari kita, seperti sumber
listrik, alat transportasi, dll.
Dari bermacam-macam sumber energi yang kita gunakan,
hampir separuhnya berpotensi untuk menyumbang karbon ke atmosfer. Ada beberapa
zat kimia penyebab pemansan global, yaitu menumpuknya unsur karbon dioksida (CO2),
metana (CH4), karbon hitam (jelaga) dll. 2 zat tersebut yang
berpengaruh besar dalam proses pemanasan global.
Karbon dioksida masuk ke atmosfer dari proses dan
pembakaran batu bara (dan bahan bakar fosil lain) untuk listrik dan pemanasan
di beberapa negara maju. Metana yang lebih sedikit kadarnya di udara tetapi
mempunyai pengaruh rumah kaca (pemanasan global) yang jauh lebih banyak
dibanding karbon dioksida. Gas metana banyak berasal dari sumber-sumber
perternakan, pengolahan padi, limbah yang terurai di tempat pemrosesan akhir.
Lebih dari separuh pelepasan metana ke atmosfer yang dibuat manusia terjadi di
bidang pertanian dan peternakan, yang
berasal dari proses pengerjaan pertanian, kotoran ternak, dan penanaman
padi.
Sumber terbesar karbon hitam adalah pembakaran biomassa,
khususnya pembakaran hutan dan padang rumput, yang kebanyakan untuk
membersihkan lahan untuk pertanian. Indonesia sebagai negara kedua
penyumbang karbon hitam terbanyak ke atmosfer, diurutan pertama ada Brazil dan diurutan
ke 3 ada Afrika Tengah. Padahal negara kita dikenal
dengan negara agraris dan dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia yang
memiliki hutan masih sangat terjaga keasliannya. Ternyata sistem dan proses
pertanian kita yang kurang baik, sehingga menghasilkan karbon hitam dan
menyebabkan polusi. Para petani di Indonesia biasa menggunakan sistem ladang
berpindah, yang digunakan untuk membersihkan hutan secara cepat untuk pertanian
pangan, perkebunan, dan perternakan. Pertanian dengan sistem modern merupakan salah satu
sumber terbesar polusi pemanasan global.
Hutan kita dari tahun ke tahun makin berkurang akibat
adanya penebangan liar, pembukaan lahan untuk tambang batu bara, dan untuk
perkebunan sawit. Sungguh disayangkan hutan kita harus rusak, yang menyebabkan
bumi kita tidak seimbang. Padahal hutan mampu menyerap kembali CO2
di atmosfer dan dapat mengurangi pemanasan global.
Indonesia sebagai salah satu penambang batu bara terbesar di dunia. Banyak perusahaan asing
yang menanam saham di Indonesia. Khususnya dipulau kalimantan, batu bara sudah
menjadi hal yang mendarah daging disini. Batu bara sangat mudah ditemui, hampir
setiap hari saya melihat batu bara yang diangkut oleh kapal tongkang melewati sungai mahakam yang entah kemana arah tujuannya. Tambang batu bara di
kalimantan timur bisa dibilang “gila-gilaan banyak dan besarnya. Bahkan ada
tambang batu bara, yang menggunkan sistem “open pit” yang berada didalam kota
dan bedekatan langsung dengan pemukiman warga sekitar. Sungguh aneh, tambang
batu bara yang menghasilkan polusi begitu besar dan berbahaya bagi warga
sekitar, bisa mendapatkan izin untuk tetap berjalan meski di kawasan pemukiman.
Belum lagi bekas tambang batu bara yang tidak direklamasi. Kebanyan tambang
batu bara di kaltim setelah habis diambil batunya, langsung ditinggal tanpa
adanya reklamasi. Seharusnya perusahaan tersebut bertanggung jawab atas keadaan
alam yang mereka rusak. Setidaknya 60% dari keadaan awal. Semoga para elemen
pemerintah dan para pengusaha tambang batu bara terketuk hatinya untuk membuat
dan menjalakankan peraturan atau sistem yang lebih baik, sehingga dampak
negatif bagi lingkungan tidak terlalu besar.
sangat tidak adil rasanya alam kami di rusak, namun batu
bara kami di nikmati oleh negara lain, dan dampak negatifnya seluruh dunia
merasakannya. Pembeli tetap batu bara indonesia adalah Jerman, China, dan
india. Beberapa kota di jerman sampai sekarang masih menggunakan sumber energi
listrik yang berbahan dari pembakaran batu bara.
Sumber energi relatif yang kita pakai sebagai pengganti
bahan bakar fosil harus memilik sumbangan karbon dioksida yang lebih rendah
daripada yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil.
Bahan bakar kita yang berbasis karbon, mempunyai sifat-sifat
yang sangat berbeda. Minyak dan gas alam mempunyai lebih banyak energi, setiap
ponnya, daripada batu bara. Tetapi minyak bumi menghasilkan 40% lebih banyak CO2
daripada gas, dan batu bara menghasilkan 40% lebih banyak dari pada minyak.
Kayu, satu-satunya bahan bakar berbasis karbon yang dapat diperbaharui, memuat
energi paling kecil dengan berat yang sama.
Kita harus segera mencari sumber energi alternatif untuk
menstabilkan dunia ini. Sumber energi yang menghasilkan sedikit kadar CO2,
CH4, dan gas-gas lainnya. Sudah banyak penelitian para ilmuwan
tentang sumber energi alternatif ini, seperti energi panas matahari, energi
angin, energi panas bumi, energi biomassa-biofuel, hingga energi nuklir. Namun,
semua sumber energi alternatif tersebut masih mempunyai kekurangan. Setelah
saya membaca dan memahami, menurut saya sumber energi alternatif yang aman dan
baik digunakan yaitu menggunakan energi panas matahari, energi angin, dan
energi biomassa-biofuel. Menurut saya ke 3 sumber energi alternatif diatas yang
paling aman untuk digunakan dan dikembangkan secara luas.
Hampir tidak ada tempat didunia ini yang rasanya tidak
pernah merasakan panas nya matahari. Hampir seluruh bagian bumi, pernah
merasakan panasnya matahari. Karena itu energi ini sangat mudah untuk
dikembangkan. Namun alat pengembangan untuk energi matahari sangat mahal, dan
sistem utilitas dan perawatannya lumayan ribet, jadi kurang cocok untuk
digunakan di negara-negara yang belum berkembang yang ekonominya belum stabil.
Jadi menurut saya energi yang patut dicoba yaitu energi
angin dan biomassa. Untuk sumber energi angin, sistem kerja, utilitas, dan
perawatannya sangat mudah, bisa dibilang paling mudah diantara semua energi
alternatif yang ada. Memiliki polusi paling sedikit dan bisa menghasilkan
setidaknya 5 megawatt untuk satu turbin kincir angin. Energi sebesar itu mampu
menghidupkan satu kota. Negara yang memproduksi energi angin terbesar adalah
Amerika serikat, dan Jerman, namun dalam beberapa tahun terakhir negara-negara
lain mulai berlomba untuk mengembangkan energi ini, China khususnya akan
membangun energi angin secara besar-besaran. Sedangkan energi biomassa bagus
untuk dicoba. Karena kita menggunakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui.
Pada saat ini sedang dikembangkan pembuatan biomassa dengan bahan baku dari
rumput mischanthus (rumput gajah) menjadi etanol. Rumput gajah menghasilkan
etanol lebih banyak dibanding tebu dan jagung.
Dibeberapa daerah di Indonesia juga menggalakan aksi bank
sampah. Iya bank sampah, tempat pengumpulan sampah yang bisa ditukar dengan
rupiah, meskipun yang didapat tidak seberapa, tetapi animo masyarakat lumayan
besar untung menabung di bank sampah. Sampah-sampah yang di kumpulkan tadi di
daur ulang menjadi barang yang layak pakai dan memiliki nilai jual. Bahkan ada
di samarinda, bisa mengolah sampah-sampah tersebut menjadi bahan bakar yang
setara dengan bensin, meskipun nilai oktannya tidak sesempurna bensin. Penemuan
ini sudah tersebar luas, kabarnya pihak pemerintah sudah siap bekerja sama
untuk mendaur ulang sampah-sampah yang ada menjadi bahan bakar alternatif dalam
skala besar.
Jadi harapan saya Indonesia bisa segera mengembangkan
energi angin khususnya. Karena menurut saya Indonesia sangat berpotensi besar
dalam pengembangan energi angin ini. Banyaknya daerah pegunungan di Indonesia
yang tentu saja mempunyai curah angin lebih tinggi, sayang rasanya tidak
digunakan dan dimanfaatkan demi kebaikan dunia. Dari sumber energi ini pun
dapat meningkatkan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan baru.
Banyak organisasi & komunitas yang mempunyai visi dan misi untuk menjaga dan melestarikan bumi ini serta mengurangi dampak dari polusi yang sudah sangat melewati batas. Salah satunya teman-teman Earth Hour dari Samarinda. Beberapa waktu lalu mereka melakukan aksi yaitu memungut sampah untuk di tumpuk di TPA, serta melakukan aksi pemadaman lampu. Hampir setengah kota Samarinda turut melakukan aksi pemadaman lampu ini, meski dampaknya tidak langsung terasa kepada kita, namun hal itu sudah cukup membantu mengurangi penyebab pemanasan global dan mengurangi polusi. Komunitas Earth Hours juga ada di kota-kota besar lainnya, mereka pun melakukan aksi yang sama.
Di kampus saya pun melakukan aksi yang tidak kalah
baiknya untuk menjaga kestabilan bumi kita. Di Universitas Mulawarman,
khususnya Fakultas teknik, jurusan teknik lingkungan, pada tanggal 3 mei
kemarin kami turut memperingati hari bumi dan kami melakukan aksi penanaman
pohon dan kami semua berkomitmen untuk merawat dan menjaga pohon yang kami
tanam. Ya ini semua merupakan langkah kecil yang bisa kami lakukan demi menjaga
kestabilan bumi ini, kami pun terus berusaha dan terus berinovasi demi menjaga
kestabilan bumi ini.




Bagi saya solusi sumber daya energi di Indonesia ada banyak cara solusinya, yaitu: membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi dan air dengan kapasitas 10.000 MW. Mendirikan kilang-kilang minyak bumi pabrik etanol, dan pabrik DME( pengganti elpiji). Konsep ini yg sesuai diidamkan Pak Prabowo supaya Indonesia berdaulat di bidang energi
BalasHapus